Skip to main content

kekurangan kalori dan protein


KEKURANGAN KALORI PROTEIN

I. DEFINISI

Kekurangan kalori protein adalah defisiensi gizi terjadi pada anak yang kurang mendapat masukan makanan yang cukup bergizi, atau asupan kalori dan protein kurang dalam waktu yang cukup lama (Ngastiyah, 1997).

Kurang kalori protein (KKP) adalah suatu penyakit gangguan gizi yang dikarenakan adanya defisiensi kalori dan protein dengan tekanan yang bervariasi pada defisiensi protein maupun energi (Sediatoema, 1999).

II. KLASIFIKASI KKP

Berdasarkan berat dan tidaknya, KKP dibagi menjadi:

v KKP ringan/sedang disebut juga sebagai gizi kurang (undernutrition) ditandai oleh adanya hambatan pertumbuhan.

v KKP berat, meliputi:

Ø Kwashiorkor

Ø Marasmus

Ø Marasmik-kwashiorkor.

1. Kwashiorkor

a. Pengertian

w Adalah bentuk kekurangan kalori protein yang berat, yang amat sering terjadi pada anak kecil umur 1 dan 3 tahun (Jelliffe, 1994).

w Kwashiorkor adalah suatu sindroma klinik yang timbul sebagai suatu akibat adanya kekurangan protein yang parah dan pemasukan kalori yang kurang dari yang dibutuhkan (Behrman dan Vaughan, 1994).

w Kwashiorkor adalah penyakit gangguan metabolik dan perubahan sel yang menyebabkan perlemahan hati yang disebabkan karena kekurangan asupan kalori dan protein dalam waktu yang lama (Ngastiyah, 1997).

b. Etiologi

Penyebab utama dari kwashiorkor adalah makanan yang sangat sedikit mengandung protein (terutama protein hewani), kebiasaan memakan makanan berpati terus-menerus, kebiasaan makan sayuran yang mengandung karbohidrat.

Penyebab kwashiorkor yang lain yaitu:

w Adanya pemberian makanan yang buruk yang mungkin diberikan oleh ibu karena alasan: miskin, kurang pengetahuan, dan adanya pendapat yang salah tentang makanan.

w Adanya infeksi, misalnya:

- Diare akan mengganggu penyerapan makanan.

- Infeksi pernapasan (termasuk TBC dan batuk rejan) yang menambah kebutuhan tubuh akan protein dan dapat mempengaruhi nafsu makan.

w Kekurangan ASI.

c. Manifestasi Klinik

Tanda-tanda Klinik kwashiorkor berbeda pada masing-masing anak di berbagai negara, dan dibedakan menjadi 3, yaitu:

1) Selalu ada

Gejala ini selalu ada dan seluruhnya membutuhkan diagnosa pada anak umur 1-3 tahun karena kemungkinan telah mendapat makanan yang mengandung banyak karbohidrat.

a Kegagalan pertumbuhan.

a Oedema pada tungkai bawah dan kaki, tangan, punggung bawah, kadang-kadang muka.

a Otot-otot menyusut tetapi lemak di bawah kulit disimpan.

a Kesengsaraan

Sukar diukur, dengan gejala awal anak menjadi rewel diikuti dengan perhatian yang kurang.

2) Biasanya ada

Satu atau lebih dari tanda ini biasanya muncul, tetapi tidak satupun yang betul-betul memerlukan diagnosis.

a Perubahan rambut

Warnanya lebih muda (coklat, kemerah-merahan, mendekati putih), lurus, jarang halus, mudah lepas bila ditarik.

a Warna kulit lebih muda

a Tinja lebih encer

Akibat gangguan penyerapan makanan, terutama gula.

a Anemia yang tidak berat

Jika berat biasanya ada kemungkinan infeksi cacing atau malaria.

3) Kadang-kadang ada

Satu atau lebih dari gejala berikut kadang-kadang muncul, tetapi tidak ada satupun yang betul-betul membentuk diagnosis.

- Ruam/bercak-bercak berserpih.

- Ulkus dan retakan.

- Tanda-tanda vitamin

Misalnya luka di sudut mulut, lidah berwarna merah terang karena kekurangan riboflavin.

- Pembesaran hati

Akibat perlemahan hati.

(Menurut Jelliffe, 1994)

Tanda-tanda yang lain yaitu:

- Secara umum anak nampak sembab, letargik, cengeng, dan mudah terserang. Pada tahap lanjut anak menjadi apatik, sopor atau koma.

- Pertumbuhan yang terhambat, berat badan dan tinggi badan lebih rendah dibandingkan dengan berat badan baku. Jika ada edema anasarka maka penurunan berat badan tidak begitu mencolok.

- Edema

- Jaringan otot mengecil dengan tonusnya yang menurun, jaringan subkutan tipis dan lembek.

- Kelainan gastrointestinal yang mencolok adalah anoreksia dan diare.

- Rambut berwarna pirang, berstruktur kasar dan kaku, serta mudah dicabut.

- Kelainan kulit: kering, bersisik dengan garus-garis kulit yang dalam dan lebar, disertai denitamin B kompleks, defisiensi eritropoetin dan kerusakan hati.

- Anak mudah terjangkit infeksi akibat defisiensi imunologik (diare, bronkopneumonia, faringotonsilitis, tuberkulosis).

- Defisiensi vitamin dan mineral.

Defisiensi vitamin A, riboflavin (stomatitis angularis), anemia defisiensi besi dan anemia megaloblastik.

(Markum, AH, 1999)



























d. Patofisiologi

Defisiensi protein



Gangguan metabolic



Asam amino esensial



Produksi insulin



Asam amino dalam serum



Hepar



Produksi albumin



Gangguan pembentukan beta-lipoprotein



Timbunan lemak



Edema





2. Marasmus

a. Pengertian

w Marasmus adalah penyakit yang timbul karena kekurangan energi (kalori) sedangkan kebutuhan protein relatif cukup (Ngastiyah, 1997).

w Marasmus merupakan gambaran KKP dengan defisiensi energi yang ekstrem (Sediaoetama, 1999).

b. Etiologi

Penyebab marasmus yang paling utama adalah karena kelaparan. Kelaparan biasanya terjadi pada kegagalan menyusui, kelaparan karena pengobatan, kegagalan memberikan makanan tambahan.

c. Manifestasi Klinik

Tanda-tanda marasmus dibedakan menjadi 2, yaitu:

1) Selalu ada

Tanda-tanda ini selalu ada dan seluruhnya membutuhkan diagnosa:

- Gangguan perkembangan

- Hilangnya lemak di otot dan di bawah kulit.

2) Kadang-kadang ada

- Mencret/diare atau konstipasi.

- Perubahan pada rambut, seperti pada kwashiorkor.

- Tanda-tanda dari defisiensi vitamin.

- Dehidrasi.

(Jelliffe, 1994)

Tanda dan Gejala yang lain yaitu:

a) Anak menjadi cengeng, sering bangun tengah malam.

b) Turgor kulit rendah dan kulitnya nampak keriput.

c) Pipi terlihat kempot.

d) Vena superfisialis tampak lebih jelas.

e) Ubun-ubun besar cekung.

f) Tulang dagu dan pipi kelihatan menonjol.

g) Mata tampak besar dan dalam.

h) Sianosis.

i) Ekstremitas dingin.

j) Perut buncit/cekung dengan gambaran usus jelas.

k) Atrofi otot.

l) Apatis.

m) Bayi kurus kering.

d. Patofisiologi

Defisiensi kalori

Energi

Pemenuhan kebutuhan kurang

Sintesis glukosa



Metabolit esensial



Cadangan protein



Asam amino



Homeostatik


3.Marasmik – Kwashiorkor

a. Pengertian

w Marasmik – kwashiorkor merupakan kelainan gizi yang menunjukkan gejala klinis campuran antara marasmus dan kwashiorkor. (Markum, 1996)

w Marasmik – kwashiorkor merupakan malnutrisi pada pasien yang telah mengalami kehilangan berat badan lebih dari 10%, penurunan cadangan lemak dan protein serta kemunduran fungsi fisiologi. (Graham L. Hill, 2000).

w Marasmik – kwashiorkor merupaan satu kondisi terjadinya defisiensi, baik kalori, maupun protein. Ciri-cirinya adalah dengan penyusutan jaringan yang hebat, hilangnya lemak subkutan dan dehidrasi. (http.www.yahoo.com. Search engine by keywords: malnutrisi pada anak)

b. Etiologi

Penyebab dari marasmik – kwashiorkor sama pada marasmus dan kwashiorkor.



































c. Patofisiologi

Perubahan cairan tubuh, lemak, mineral dan protein



Pertumbuhan terhenti



Berat badan turun






Cairan tubuh meningkat



Sistem hemotopatik



Mukosa usus



Selasiner



Hati



Otak

edema

apatis



III. ETIOLOGI

Penyebab langsung dari KKP adalah defisiensi kalori protein dengan berbagai tekanan, sehingga terjadi spektrum gejala-gejala dengan berbagai nuansa dan melahirkan klasifikasi klinik (kwashiorkor, marasmus, marasmus kwashiorkor).

Penyebab tak langsung dari KKP sangat banyak sehingga penyakit ini disebut sebagai penyakit dengan causa multifactoral.

Berikut ini merupakan sistem holistik penyebab multifactoral menuju ke arah terjadinya KKP.

Ekonomi negara rendah



Pendidikan umum kurang



Produksi bahan pangan rendah



Hygiene rendah



Pekerjaan rendah



Pasca panen kurang baik



Sistem perdagangan dan distribusi tidak lancar



Daya beli rendah



Persediaan pangan kurang



Penyakit infeksi dan investasi cacing



Konsumsi kurang



Absorpsi terganggu



Utilisasi terganggu



K K P



Pengetahuan gizi kurang



Anak terlalu banyak



Kwashiorkor Marasmus
Marasmic – kwashiorkor


(Sediaoetoma, A. Djaeni, 1999)

IV. MANIFESTASI KLINIK

Tanda-tanda dari KKP dibagi menjadi 2 macam yaitu:

  1. KKP Ringan

- Pertumbuhan linear terganggu.

- Peningkatan berat badan berkurang, terhenti, bahkan turun.

- Ukuran lingkar lengan atas menurun.

- Maturasi tulang terlambat.

- Ratio berat terhadap tinggi normal atau cenderung menurun.

- Anemia ringan atau pucat.

- Aktifitas berkurang.

- Kelainan kulit (kering, kusam).

- Rambut kemerahan.

  1. KKP Berat

- Gangguan pertumbuhan.

- Mudah sakit.

- Kurang cerdas.

- Jika berkelanjutan menimbulkan kematian

(Pudjiadi, 1990)

V. EPIDEMIOLOGI

Penyakit KKP merupakan bentuk malnutrisi yang terdapat terutama pada anak-anak dibawah umur 5 tahun dan kebanyakan di negara-negara yang sedang berkembang. Berdasarkan hasil penyelidikan di 254 desa di seluruh Indonesia, Tarwotjo, dkk (1999), memperkirakan bahwa 30 % atau 9 juta diantara anak-anak balita menderita gizi kurang, sedangkan 3% atau 0,9 juta diantara anak-anak balita menderita gizi buruk. Berdasarkan “Rekapitulasi Data Dasar Desa Baru UPGK 1982/1983” menunjukkan bahwa prevalensi penderita KKP di Indonesia belum menurun. Hasil pengukuran secara antropometri pada anak-anak balita dari 642 desa menunjukkan angka-angka sebagai berikut: diantara 119.463 anak balita yang diukur, terdapat status gizi baik 57,1%, gizi kurang 35,9%, dan gizi buruk 5,9%.

Tingginya prevalensi penyakit KKP disebabkan pula oleh faktor tingginya angka kelahiran. Menurun Morley (1968) dalam studinya di Nigeria, insidensi kwashiorkor meninggi pada keluarga dengan 7 anak atau lebih. Studi lapangan yang dilakukan oleh Gopalan (1964) pada 1400 anak prasekolah menunjukkan bahwa 32% diantara anak-anak yang dilahirkan sebagai anak keempat dan berikutnya memperlihatkan tanda-tanda KKP yang jelas, sedangkan anak-anak yang dilahirkan terlebih dahulu hanya 17% memperlihatkan gejala KKP. Ia berkesimpulan bahwa 62% dari semua kasus kekurangan gizi pada anak prasekolah terdapat pada anak-anak keempat dan berikutnya.

Mortalitas KKP berat dimana-mana dilaporkan tinggi. Hasil penyelidikan yang dilakukan pada tahun 1955/1956 (Poey, 1957) menunjukkan angka kematian sebanyak 55%, 35% diantara mereka meninggal dalam perawatan minggu pertama, dan 20% sesudahnya.

Menurut WHO, 150 juga anak berumur di bawah 5 tahun menderita KKP dan 49% dari 10,4 juga anak berumur di bawah 5 tahun meninggal karena KKP yang kebanyakan terjadi di negara-negara yang sedang berkembang.

VI. KOMPLIKASI

1. Defisiensi vitamin A (xerophtalmia)

Vitamin A berfungsi pada penglihatan (membantu regenerasi visual purple bila mata terkena cahaya).

Jika tidak segera teratasi ini akan berlanjut menjadi keratomalasia (menjadi buta).

2. Defisiensi Vitamin B1 (tiamin) disebut Atiaminosis.

Tiamin berfungsi sebagai ko-enzim dalam metabolisme karbohidrat. Defisiensi vitamin B1 menyebabkan penyakit beri-beri dan mengakibatkan kelainan saraf, mental dan jantung.

3. Defisiensi Vitamin B2 (Ariboflavinosis)

Vitamin B2/riboflavin berfungsi sebagai ko-enzim pernapasan. Kekurangan vitamin B2 menyebabkan stomatitis angularis (retak-retak pada sudut mulut, glositis, kelainan kulit dan mata.

4. Defisiensi vitamin B6 yang berperan dalam fungsi saraf.

5. Defisiensi Vitamin B12

Dianggap sebagai faktor anti anemia dalam faktor ekstrinsik. Kekurangan vitamin B12 dapat menyebabkan anemia pernisiosa.

6. Defisit Asam Folat

Menyebabkan timbulnya anemia makrositik, megaloblastik, granulositopenia, trombositopenia.

7. Defisiensi Vitamin C

Menyebabkan skorbut (scurvy), mengganggu integrasi dinding kapiler. Vitamin C diperlukan untuk pembentukan jaringan kolagen oleh fibroblas karena merupakan bagian dalam pembentukan zat intersel, pada proses pematangan eritrosit, pembentukan tulang dan dentin.

8. Defisiensi Mineral seperti Kalsium, Fosfor, Magnesium, Besi, Yodium

Kekurangan yodium dapat menyebabkan gondok (goiter) yang dapat merugikan tumbuh kembang anak.

9. Tuberkulosis paru dan bronkopneumonia.

10. Noma sebagai komplikasi pada KEP berat

Noma atau stomatitis merupakan pembusukan mukosa mulut yang bersifat progresif sehingga dapat menembus pipi, bibir dan dagu. Noma terjadi bila daya tahan tubuh sedang menurun. Bau busuk yang khas merupakan tanda khas pada gejala ini.



VII.pemeriksaan diagnostik

Pemeriksaan laboratorium

·         Tes darah(hb, glukosa, protein serum, albumin)

·         Kadar enzim pencernaan

·         Biopsy hati, biasanya ditemukan perlemakan ringan sampai berat,finrosis,nekrosis. Pada perlemakan berat hamper semua sel hati mengandung vakuol lemak besar

·         Pemeriksaan tinja dan urin





VIII. PENATALAKSANAAN

Prinsip pengobatan MEP adalah:

1) Memberikan makanan yang mengandung banyak protein bernilai biologik tinggi, tinggi kalori, cukup cairan, vitamin dan mineral.

2) Makanan harus dihidangkan dalam bentuk yang mudah dicerna dan diserap.

3) Makanan diberikan secara bertahap, karena toleransi terhadap makanan sangat rendah. Protein yang diperlukan 3-4 gr/kg/hari, dan kalori 160-175 kalori.

4) Antibiotik diberikan jika anak terdapat penyakit penyerta.

5) Tindak lanjut berupa pemantauan kesehatan penderita dan penyuluhan gizi terhadap keluarga.

Dalam keadaan dehidrasi dan asidosis pedoman pemberian cairan parenteral adalah sebagai berikut:

1) Jumlah cairan adalah 200 ml/kgBB/hari untuk kwashiorkor atau marasmus kwashiorkor, dan 250 ml/kg BB/hari untuk marasmus.

2) Jenis cairan yang dipilah adalah Darrow-glukosa aa dengan kadar glukosa dinaikkan menjadi 10% bila terdapat hipoglikemia.

3) Cara pemberiannya adalah sebanyak 60 ml/kg BB diberikan dalam 4-8 jam pertama, kemudian sisanya diberikan dalam waktu 16-20 jam berikutnya.

Makanan tinggi energi tinggi protein (TETP) diolah dengan kandungan protein yang dianjurkan adalah 3,0-5,0 gr/kg BB dan jumlah kalori 150-200 kkal/kg BB sehari.

Asam folat diberikan per oral dengan variasi dosis antara 3×5 mg/hari pada anak kecil dan 3×15 mg/hari pada anak besar. Kebutuhan kalium dipenuhi dengan pemberian KCL oral sebanyak 75-150mg/kg BB/hari (ekuivalen dengan 1-2 mEq/kg BB/hari); bila terdapat tanda hipokalemia diberikan KCl secara intravena dengan dosis intramuskular atau intravena dalam bentuk larutan MG-sulfat 50% sebanyak 0,4-0,5 mEq/kgBB/hari selama 4-5 hari pertama perawatan.

IX. Komplikasi Malnutrisi

A.    Komplikasi Marasmus

1.      Infeksi

2.      Hipoglikemia

3.      Hipotermi ( suhu aksiler kurang dari 350 )

4.      Sepsis

5.      Diare

6.      Dehidrasi

B.     Komplikasi kwarshiokor

Anak dengan kwashiorkor akan lebih mudah untuk terkena infeksi dikarenakan lemahnya sistem imun. Tinggi maksimal dan kemampuan potensial untuk tumbuh sulit dicapai oleh anak dengan riwayat kwarshiokor.

Komplikasi:

-          Hipoglikemia

-          Hipotermi

-          Dehidrasi

-          Gangguan keseimbangan elektrolit asam basa

-          Infeksi berat

-          Hambatan penyembuhan penyakit penyerta











X. pencegahan

Berikut adalah beberapa cara untuk mencegah terjadinya gizi buruk pada anak:

1) Memberikan ASI eksklusif (hanya ASI) sampai anak berumur 6 bulan. Setelah itu, anak mulai dikenalkan dengan makanan tambahan sebagai pendamping ASI yang sesuai dengan tingkatan umur, lalu disapih setelah berumur 2 tahun.

2) Anak diberikan makanan yang bervariasi, seimbang antara kandungan protein, lemak, vitamin dan mineralnya. Perbandingan komposisinya: untuk lemak minimal 10% dari total kalori yang dibutuhkan, sementara protein 12% dan sisanya karbohidrat.

3) Rajin menimbang dan mengukur tinggi anak dengan mengikuti program Posyandu. Cermati apakah pertumbuhan anak sesuai dengan standar di atas. Jika tidak sesuai, segera konsultasikan hal itu ke dokter.



XI. Prognosis Malnutrisi

A.   Prognosis Marasmus

Malnutrisi yang hebat mempunyai angka kematian yang tinggi, angka kematian sering disebabkan oleh karena infeksi sering tidak dapat dibedakan karena infeksi atau karena malnutrisi sendiri

Prognosis tergantung dari stadium saat pengobatan mulai dilaksanakan.dalam beberapa hal walaupun kelihatannya pengobatan adekuat, bila penyakitnya progesif kematian tidak dapat dihindari, mungkin disebabkan perubahan yang irrevesibel dari sel-sel akibat under nutrition.

B.   Prognosis Kwashiorkor

Penanganan yang cepat dan tepat pada kasus-kasus gizi seperti kwashiorkor, umumnya dapat memberikan prognosis yang cukup baik, penanganan pada stadium yag lanjut walaupun dapat mningkatkan kesehatan anak secara umum namun ada kemungkinannya untuk memperoleh gangguan fisik permanen dan gangguan intelektual. Sedangkan bila penanganan terlambat atau tidak memperoleh penanganan sama sekali dapat berakibat fatal.























ASKEP

1. Pengkajian

a. Anamnesa

· Bidata, umur, pekerjaan, pendidikan dan alamat

· Data subjektif

- bagaimana nafsu makan klien

- berapa kali makan dalam sehari

- banyaknya makan dalam satu kali makan

- apakah ada mual muntah

- bagaimana pola eliminasinya

- apakah ada anoreksia

· Data Objektif

- bagaimana nafsu makan klien

- berapa kali makan dalam sehari

- banyaknya makan dalam satu kali makan

- apakah ada mual muntah

- bagaimana pola eliminasinya

- apakah ada anoreksia

b. Pemeriksaan Fisik

· Inspeksi

- lihat keadaan klien apakah kurus, ada edema pada muka atau kaki

- lihat warna rambut, kering dan mudah dicabut

- mata cekung dan pucat

- pada marasmus terlihat pergerakan usus

· Auskultasi

- dengar denyut jantung apakah terdengar bunyi S1, S2, S3 serta S4

- bagaimana dengan tekanan darahnya

- dengarkan juga bunyi peristaltik usus

- bunyi paru – paru terutama weezing dan ronchi

· Perkusi

- perut apakah terdengar adanya shitting duilnees

- bagaimana bunyinya pada waktu melakukan perkusi

· Palpasi

- hati : #bagaimana konsistensinya, kenyal, licin dan tajam pada permukaannya.

# berapa besarnya dan apakah ada nyeri tekan

# pada marasmus usus terasa dengan jelas

- limpa : apakah terjadi pembesaran limpa

- tungkai : apakah ada pembesaran pada tungkai

c. Pemeriksaan Labolatorium

· Biokimia : * Hb anemia

* kadar albumin yang rendah

* kadar globulin kadang – kadang rendah dan tinggi

* kadar asam amino biasanya kurang dari satu

· Biopsi : ditemukan perlemakan pada hati, dan terjadinya nekrosis dan infiltrasi

· Autopsi : hampir semua organ tubuh mengalami degenerasi seperti jantung, tulang



d. Diagnosa yang mungkin timbul dan intervensinya

1. Gangguan nutrisi sehubungan dengan intake nutrisi yang kurang, ditandai dgn:

· DS : - Klien mengeluh badan lemah

- anoreksia

- lesu

- mudah lelah

· DO: - berat badan turun

- berat badab tidak sesuai dengan tinggi badan

- edema

- rambut kering, kusam, jarang, putih dan mudah dicabut

- kulit kering dan bersisik

- hepar membesar

- hb rendah

- mata pucat dan cekung

Tujuannya :

- badan tidak lemah

- nafsu makan membaik

- ceria dan segar

- BB normal

- edema hilang

- rambut distribusi rata, hitam nampak berminyak

- hb normal

- hepar tidak membesar

Intervensi :

- berikan makanan TKTP, dilakukan secara bertahap

- hidangkan makanana dalam keadaan hangat

- observasi intake dan output

- observasi TTV

- kolaborasi dengan dokter ( untuk pemberian vitamin ) dan gizi ( untuk makanannya ).

- penyuluhan kesehatan

-

2. Gangguan pamanuhan kebutuhan cairan dan elektrolit yang ditandai dengan :

· DS : klien mengeluh mual, badan lemah, Anoreksia, kadang – kadang muntah

· DO : diare, BB turun, turgor jelek, mata cekung

Tujuannya :

- mual – mual berkurang

- badan tidak lemah

- nafsu makan membaik

- muntah berkurang

- diare berkurang

- BB normal

- turgor kulit baik, kenyal

- mata tidak cekung

Intervensi :

- berikan banyak minum

- catat intake dan output

- observasi TTV

- Kolaborasi dengan dokter untuk memberikan cairan parental dengan nutrisi tinggi

-

3. Potensial terjadinya infeksi sekunder sehubungan dengan pertahaan tubuh yang kurang adekuat ditandai dengan :

- badan lemah

- lesu

- pusing

- Hb rendah

- BB tidak sesuai dengan tinggi badan

- mata pucat

Tujuannya :

- badan tidak lemah dan ceria

- pusing berkurang

- Hb normal kembali

- BB normal kembali

- mata tidak pucat

Intervensi :

- berikan makanan TKTP

- isolasi penderita

- monitoring TTV

- kolaborasi : laporkan segera adanya tanda – tanda khusus yang menyangkut keadaan klien.



Comments

Popular posts from this blog

keracunan metanol

BAB I PENDAHULUAN A.     Latar Belakang Metanol atau dikenal dengan nama spritus merupakan jenis alkohol dengan struktur paling sederhana, tetapi paling toksik pada manusia dibanding dengan jenis alkohol lainnya. Metanol secara luas digunakan pada industri, rumah tangga, pelarut cat, anti beku dan sebagai bahan bakar. Kasus keracunan metanol di Amerika sangat jarang ditemukan, yaitu 1% dari total kasus keracunan. Di Inggris dan Norwegia juga merupakan kasus yang sangat jarang dijumpai.   Kasus keracunan metanol yang terjadi selama bulan Juni 2009 sampai bulan Mei 2010 di RSUP Sanglah sebanyak 76 kasus atau 18% dari total kasus keracunan di RSUP Sanglah, sebanyak 39 kasus diantaranya meninggal. Selama periode 1 Juni 2009 sampai 31 Mei 2010 terdapat 76 kasus keracunan metanol. Sebanyak 39 orang meninggal, 21 orang dengan catatan medis tidak lengkap sehingga subyek penelitian berjumlah 16 orang. Berdasarkan jenis kelamin, didapatkan laki-laki mempunya...

MAKALAH KEGAWAT DARURATAN SISTEM I KRISIS HIPERTENSI DAN GANGGUAN KONDUKSI JANTUNG

BAB I PEMBAHASAN KRISIS HIPERTENSI Defenisi Secara praktis klinis, krisis hipertensi di klasifikasikan berdasarkan prioritas pengobatan, sebagai berikut: 1.       Hipertensi darurat ( emergency hypertension ) yaitu kenaikan tekanan darah mendadak ( sistolik  ≥180 mmHg dan diastolik ≥120 mmHg ) dengan kerusakan organ target yang bersifat progresif, sehingga tekanan darah harus diturunkan segera dalam hitungan menit sampai jam agar dapat membatasi kerusakan yang terjadi. 2.       Hipertensi mendesak (urgency hypertension) yaitu TD sistolik ≥ 120 mmHg dan dengan tanpa kerusakan atau komplikasi minimum dari organ sasaran. Tekanan darah harus diturunkan dalam waktu 24 jam sampai batas yang aman memerlukan terapi parenteral. (Rampengan, 2007) Anatomi Fisiologi Jantung terletak didalam rongga mediastinum dari ronga dada (toraks) diantara kedua paru. Selaput yang melapisi jantung disebut perikardium...